Powered By Blogger

Minggu, 07 November 2010


MaAf unTuk OrHion....

Sekali lagi gadis itu menatap cermin besar di depannya. Nice. Seorang gadis mungil dengan balutan gaun warna pink tua tampak sangat cantik dalam bayangan cermin tersebut. Gadis itu tersenyum. Memikirkan bagaimana reaksi Carra-teman sekampusnya. Carra yang selalu merasa dirinya paling cantik pasti bakalan kaget banget melihat penampilan baru Vee yang nama lengkapnya Veenus Andiarini Putri. Mulai saat ini tidak ada lagi Vee yang rambutnya biasa diikat dan selalu dengan kaos oblongnya ke kampus. Vee udah berubah. Gadis itu jadi teringat Orhion-cowok paling keren dikampusnya. Orhionlah yang membuatnya berusaha mati-matian untuk mengubah penampilannya. Nggak tahu kenapa Vee begitu terobsesi pada cowok tampan itu. dan malam ini.... Vee akan hadir di pestanya Orhion. Malam ini adalah perayaan ulang tahun Orhion yang ke 19. seisi kampus diundang. Secara, Orhion adalah dambaan setiap makhluk perempuan dikampus.
Vee merapikan rambut lurusnya yang panjang. Sebuah jepit (yang lagi-lagi) berwarna pink menempel dengan manis di rambut hitamnya. High heels yang dipilihnya pun berwarna pink. Kulit putih Vee tampak merona diantara warna favoritenya itu. malam ini Vee akan memulai petualangannya. Memulai hidupnya sebagai Vee yang baru. Honda Jazz pink membawa gadis itu menuju pesta sang Pangeran.
Tuhan.... Malam ini gue pengen jadi Cinderella. Bisik Vee sebelum langkahnya memasuki ruang pesta. Musik clasik mengalun lembut. Vee menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar kencang ketika matanya menangkap sosok Orhion di tengah-tengah ruang pesta. Sudut matanya memastikan bahwa sosok tampan itu sedang menatapnya. Vee tahu itu. Vee tahu semua orang yang hadir di pesta ini menatapnya. Vee juga melihat bagaimana Carra terbelalak tak percaya. Dengan langkah anggun Vee mengambil segelas juice dan meneguknya. Musik seketika mati. Orhion melangkah ke arahnya. Vee yakin sesuatu akan terjadi. Dan benar aja. Orhion berlutut dihadapan Vee dan memegang tangan kanan gadis itu.
“Putri cantik, maukah malam ini kau bersamaku?” pinta Orhion bak pangeran dalam kisah Cinderella. Semua yang ada dalam ruangan itu menyaksikan moment penting ini. Seorang Orhion gitu loh?? Sekarang sedang berlutut didepan gadis cantik. Carra hanya geregetan menyaksikan semua itu.
“Sorry, kayaknya gue nggak bisa. Gue sama sekali nggak tertarik ama lo. So, sorry banget” Vee manarik tangannya dari genggaman Orhion. Semua audiens seakan nggak percaya ama jawaban Vee. Karena hampir seluruh makhluk yang berjenis kelamin perempuan yang datang ke pesta ini mengharapkan bisa berdansa bersama Orhion. Tapi Vee? Gadis itu malah menolaknya dengan kasar di depan banyak orang.
Vee melangkah indah meninggalkan ruang pesta. Orang-orang di pesta itu hanya memandangnya penuh tanda tanya.

***

Sebuah Honda Jazz pink memasuki area parkir kampus. Seorang gadis cantik dengan dress pink turun dari mobil. Kali ini lebih banyak mata yang memandang kearah gadis itu. Vee yang cantik. Vee yang menarik. Vee yang memikat hati siapa aja yang menatapnya. Vee yang menolak Orhion-makhluk paling keren di kampus ini. Vee yang menikmati hidup barunya itu melangkah santai ke ruang kelasnya. Carra menatapnya sinis. Tapi lagi-lagi Vee nggak mau peduli.
“Vee!! Gue mau ngomong ama lo” Orhion ternyata udah ada di kelasnya.
“Ngomong aja”
“Tapi nggak disini”
“Napa? Mau nanya kenapa gue tadi malam nolak lo? Sorry ya. kalo itu gue rasa nggak ada yang perlu di omongin. Gue emang nggak suka ama lo!!” jawaban Vee membuat dada Orhion sedikit sesak.
“Nggak. Gue nggak akan nanya kenapa lo nolak gue. Tapi gue mau minta maaf ama lo. Gue tahu dulu gue emang pernah nyakitin lo. Tapi waktu itu gue khilaf Vee. Sorry ya Vee.. Lo mau kan maafin gue??”
Uh, sekarang aja lo bilang maaf. Lo bilang khilaf lah! Dasar cowok brensek!! Waktu gue udah cantik aja lo baiknya minta ampun ama gue. Dulu-dulu kemana aja lo??! Vee membatin. Memory Vee kembali mengingat kejadian dua bulan yang lalu. Waktu itu Vee suka menulis puisi-puisi buat Orhion. Tapi puisi itu hanya di simpan di agendanya. Tapi Carra ternyata tau tentang puisi-puisi itu.
“Guys!! Tau nggak? Orhion ternyata punya fans nih! fans nya cupu bo!!! Tapi gadis itu punya puisi-puisi bagus buat Orhion. Ayo dong Ion bacain puisinya!!” seru Carra dihadapan seluruh penghuni kantin. Orhion membuka agenda-agenda Vee. Vee hanya menunduk menahan malu. Orhion, cowok itu mulai membaca puisi-puisi yang di tulis Vee. Tentu aja isi puisi-puisi itu tentang perasaan Vee pada Orhion. Bisa ditebak, seluruh makluk hidup yang hadir di kantin menertawakan Vee. Menghinanya. Vee memang dulu sangat memuja cowok itu. Dan sampai sekarang pun gadis itu masih memuja Orhion. Tapi Vee terlanjur sakit hati. Sekarang Vee akan membalas semuanya. Walau sebenarnya rasa cinta untuk cowok didepannya ini masih tersimpan rapi dihatinya.

***

Dengan mata setengah terbuka, Vee membuka pintu rumahnya. Sebuah kiriman bunga. Vee membuka secarik kertas kecil pada setangkai bunga itu.

Dear Vee,
Gue tau gue udah nyakitin lo. Tapi itu dulu. Itu waktu gue masih dengan pola pikir gue yang bodoh. Dan sekarang semuanya udah berubah.  gue sayang lo Vee. Bukan karena lo yang sekarang berubah cantik. Bukan. Dan gue bahkan nggak tau kenapa gue sayang ama lo. Yang gue tau, setiap detik hanya hadir bayang-bayang lo.
Pagi ini gue masih dengan permohonan maaf gue, Vee. Masih kayak biasa gue bakal tetap nunggu lo di Taman jam 7 malam. Walaupun lo nggak pernah datang, gue  bakal tetap disana Vee. Menunggu maaf dari seorang peri cantik.

Orhion

Vee melipat surat Orhion. Ini udah 15 hari sejak kejadian di kampus. Dan kebetulan sekarang libur semester. Jadi gadis itu nggak perlu nyiapin mental buat ketemu Orhion di kampus.Namun Orhion tiap pagi mengiriminya bunga dan surat permohonan maafnya. Serta tetap dengan rangkaian-rangkaian kata yang hampir sama. Vee nggak tau bahwa sesungguhnya Orhion benar-benar mencintainya. Vee juga nggak tau bahwa setiap malam lelaki itu menunggunya di taman.

***

Vee menatap keluar jendela kamarnya. Diluar hujan turun sangat deras. Kemudian mata bulat gadis itu beralih ke jam dinding. Jam 7 lewat 15 menit. Kata-kata Rio-sahabatnya Orhion tadi siang masih terngiang-ngiang di gendang telinganya.
“Orhion nunggu lo tiap malam di taman. Mespi hujan sekalipun Orhion tetap nunggu lo disana. Dan lo?? Lo enak-enakan tidur dirumah tanpa mikirin perasaannya Orhion. Jahat lo Vee!!”
Tanpa pikir panjang lagi Vee memakai jaketnya dan menyambar kunci mobil. Honda Jazz pink itu melaju dengan kecepatan tinggi dibawah derasnya hujan. Cinderella Vee mengejar Pangeran Orhion-nya. Malam ini Vee akan memberikan maafnya untuk Orhion. Taman semakin dekat. Tapi....
Buukkk!!!
Jazz pink itu menabrak sesuatu. Bukan. Sepertinya menabrak seseorang. Vee turun dengan cemas. Benar. Vee menabrak seseorang. Seorang pria dengan sweater putihnya tertelungkup penuh darah dibawah hujan yang turun semakin deras. Vee membalikkan tubuh itu.
“Orhion????? NGGGAAKKKK!!!! Ini nggak mungkin!!! Gue nggak mungkin nabrak Orhion!! NGGGAAAAAKKK !!!!”

***

Angin berhembus dengan kencang. Langit terlihat mendung. Beberapa daun jatuh berguguran menerpa seraut wajah cantik yang tampak sangat kurus. Vee bersimpuh disamping pusara Orhion.
“Ion, bangun dong? Gue kesepian nggak ada lo. Gue kangen ama lo. Maafin gue ya Ion?? Ini semua salah gue.... Seandainya aja dulu gue maafin lo, lo mungkin nggak akan pergi. Ayo Ion.... Bangun lagi buat gue!! Gue bakal kasih sejuta maaf buat lo....” Vee terisak-isak disamping pusara. Sekarang genap 2 tahun pangerannya itu pergi. Pergi untuk selamanya. Pergi meninggalkan Peri kecilnya yang bodoh. Peri kecilnya lah yang mengantarkan pria itu meninggalkan semuanya. Dan sekarang, Peri kecil itu tampak lemah tanpa sosok sang Pangeran disisinya.
Air mata Vee terus saja mengalir. Rintik-rintik hujan mulai turun. Air mata gadis itu kini telah bercampur dengan hujan. Hujan. Gadis itu membenci hujan. Karena dalam hujan pangerannya pergi. Pergi karena dia. Karena Vee. Vee terus saja menagis. Berharap Orhion-nya bisa hidup lagi. Namun itu hanya harapan. Vee akan terus berharap. Mungkin sampai nanti pun gadis itu akan tetap menyimpan harapannnya rapi-rapi di lubuk hatinya yang terdalam.

_the end_


MenAnti dEsemBer


“Sya, gue cabut dulu ya....” Heni melambaikan tangannya dari boncengan Adrian-cowoknya.
“Yap. Ati-ati ya!”
Ini adalah malam minggu ke 3 yang dilewati gadis itu sendirian. DVD menjadi temannya malam ini. Jauh dilubuk hatinya ada sedikit rasa iri terhadap Heni-teman satu kamar plus sahabat baiknya itu. Hubungan Heni dan Adrian sampai detik ini masih adem ayem aja walau pun udah empat tahun pacaran. Sedangkan dia? Gadis itu sekarang sendirian walaupun umur jomblonya masih sangat muda, 16 hari.
Tasya Olivia Nafirra. Mahasiswi semester tiga Fakultas Kedokteran. Tinggi 165 cm dengan berat 50 kg. Cukup ideal. Ditambah lagi kulit putih dan rambut panjang-lurus-hitamnya membuat Tasya terlihat lebih perfect.
16 hari yang lalu Tasya nggak jomblo. Gadis itu punya seorang pangeran yang sangat baik. Dion. Cowok semester lima yang tinggi, putih dan tajir itu membuat hidup Tasya sebelas bulan yang lalu penuh warna. Otaknya tanpa diminta, memutarkan video awal perkenalan mereka, Tasya-Dion di halaman belakang kampus.

* * *

Rintik-rintik hujan mulai turun dipenghujung Desember. Tasya menutup buku Ilmu Bedah yang bibacanya. Gadis itu menutup mata dan menikmati tetesan hujan menerpa wajah cantiknya.
“hei, lo ngapain hujan-hujan masih disini?” sebuah suara mengagetkan Tasya. Gadis itu membalikkan badannya. Dibelakangnya telah berdiri sesosok makhluk Tuhan yang luar biasa cakep. Berdiri dengan kaos putihnya yang basah kuyup.
“Lo sendiri ngapain?”
“Nnnggg.... Gue.... gue suka hujan!!” cowok itu menjawab dengan ketus.
“Gue juga suka hujan” jawab Tasya.
Dion yang sama seperti Tasya, sama-sama menyukai hujan membuat mereka semakin dekat. Hampir setiap kali hujan, mereka selalu menikmatinya di halaman belakang kampus. Dan suatu hari ditengah hujan yang turun deras, Dion menyatakan cintanya pada Tasya. Waktu itu Tasya merasa menjadi makhluk paling beruntung di dunia ini. Karena menjadi pacarnya Dion- cowok paling keren di kampus adalah impian setiap orang. Mereka, Dion-Tasya adalah pasangan paling serasi. Tasya yang cantik dan Dion yang keren.
Sejak saat itu hari-hari Tasya berjalan begitu indah. Namun memasuki delapan bulan hubungan mereka, seseorang hadir dalam hidup Tasya. Agil. Sepupu Heni yang tajir abis itu mulai menyelinap masuk dalam hatinya Tasya. Sejauh ini nggak ada kecurigaan dari Dion. Tapi.... 16 hari yang lalu ketika Dion dan Tasya makan malam disebuah restoran favorite mereka....
“Beb, aku ke toilet dulu ya?” Dion menjawab dengan anggukan dan tetap tersenyum manis pada bidadarinya itu.
Handphone Tasya yang tertinggal di meja tempat mereka makan berdering. Dion menatap ponsel itu. Dion dengan iseng membaca pesan yang masuk ke handphonenya Tasya.

Cay, aku bentar lg nympe d kostan kmu.
Siap2 ya....
Aku mau ngjakin kmu kluar bentar.
Aku ada kejutan buat kmu. Okey??

Sender:
Agil_qU

Mata Dion terbelalak tak percaya menatap layar ponsel yang dipegangnya. Tangannya bergerak cepat memeriksa inbox Tasya. Beberapa sms singkat dari Agil memenuhi kotak masuk ceweknya. Rasa marah cowok itu membuat pipinya memerah. Dion memilih menu reply dan membalas sms Agil.

Okey
Aku tggu....

Delivered:
Agil_qU

Tasya melangkah mendekati meja dimana Dion duduk. Dion berusaha memasang ekspresi biasa aja di depan Tasya.
“Sya, pulang yuk. Aku lupa kalo aku harus jemput mama di rumah Tante Ratna”
“Oh, ayok....!!!”
***

Toyota Vios Dion berhenti di depan kostnya Tasya. Sebuah Honda CRV telah terparkir di halaman rumah. Tasya pucat. Dia tau siapa yang datang.
“Nnggg.... Beb, kayaknya dompet aku ketinggalan di tempat kita makan tadi. Balik ke restoran lagi yuk beb?” Tasya berusaha setengah mati agar Dion tidak ketemu Agil.
“Sya!! Cukup!!! Gue nggak mau dengar apa-apa lagi dari lo!! Sekarang lo turun dari mobil gue dan temuin cowok lo itu!!!” Dion benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Mulut Tasya ternganga mendengar ucapan Dion.
“mak.... maksud kamu apa sayang?” Tasya terbata-bata seolah nggak ngerti dengan yang Dion ucapkan.
“Lo nggak usah sok lugu lagi Sya!! Gue udah tau semuanya. Cuma satu yang gue nggak tau! Gue nggak tau sejak kapan lo memulai hubungan lo ama cowok baru lo itu?? Sekarang lo turun!!! Mulai detik ini gue akan pergi dari hidup lo!!”
“Dion, semua ini nggak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Plisss!!! Dengerin aku Ion....”
“Udah Sya. Cukup!! Lo nggak usah jelasin apa-apa. Gue nggak butuh. Sekarang juga gue mohon lo turun dari mobil gue!!”
“Ion!!! Plisss.... Kasih aku kesempatan Ion.... Aku mohon....” air mata Tasya mulai mengalir dari sudut matanya.
“Sya!! Gue sayang ama lo! Sayang banget. Tapi apa yang lo lakuin ke gue?? Apa??! Lo ngehianatin gue Sya! Apa sih yang salah dari gue selama ini?”
“Kamu nggak salah Ion. Aku yang salah. Aku yang bodoh. Aku udah nyia-nyiain kamu. Maafin aku ya Ion??”
“Sorry Sya. Untuk saat ini kayaknya gue belum bisa maafin lo. Sekarang lebih baik lo turun dan temuin cowok lo. Kalo suatu hari nanti dia ninggalin lo, lo bisa datang lagi ke gue. Di tempat dulu kita ketemu dalam hujan dan dimusim hujan yang akan datang. Mungkin gue akan ada disana buat lo”
“Ion....”
“Sekarang lo turun” intonasinya datar dan suara cowok itu sedikit serak.

* * *

Suara DVD yang keras membangunkan Tasya dari lamunannya. Ia teringat Dion. Sungguh ia sangat merindukan cowok itu. Sejak kejadian malam itu, Tasya sudah memutuskan hubungannya dengan Agil.
Tasya memandang keluar. Rintik-rintik hujan mulai turun. Sekarang memasuki bulan Desember. Itu artinya dia harus menunggu satu tahun lagi untuk menemui Dion-nya. Dia akan tetap menunggu. Menunggu Desember tahun depan. Entah itu nanti Dion masih ada untuknya atau tidak, Tasya tidak peduli. Bisa aja tahun depan Dion sudah melupakan ucapannya atau mungkin nanti Dion sudah tidak lagi sendiri. Tapi Tasya tetap tidak peduli.

_THE END_