MenAnti dEsemBer
“Sya, gue cabut dulu ya....” Heni melambaikan tangannya dari boncengan Adrian-cowoknya.
“Yap. Ati-ati ya!”
Ini adalah malam minggu ke 3 yang dilewati gadis itu sendirian. DVD menjadi temannya malam ini. Jauh dilubuk hatinya ada sedikit rasa iri terhadap Heni-teman satu kamar plus sahabat baiknya itu. Hubungan Heni dan Adrian sampai detik ini masih adem ayem aja walau pun udah empat tahun pacaran. Sedangkan dia? Gadis itu sekarang sendirian walaupun umur jomblonya masih sangat muda, 16 hari.
Tasya Olivia Nafirra. Mahasiswi semester tiga Fakultas Kedokteran. Tinggi 165 cm dengan berat 50 kg. Cukup ideal. Ditambah lagi kulit putih dan rambut panjang-lurus-hitamnya membuat Tasya terlihat lebih perfect.
16 hari yang lalu Tasya nggak jomblo. Gadis itu punya seorang pangeran yang sangat baik. Dion. Cowok semester lima yang tinggi, putih dan tajir itu membuat hidup Tasya sebelas bulan yang lalu penuh warna. Otaknya tanpa diminta, memutarkan video awal perkenalan mereka, Tasya-Dion di halaman belakang kampus.
* * *
Rintik-rintik hujan mulai turun dipenghujung Desember. Tasya menutup buku Ilmu Bedah yang bibacanya. Gadis itu menutup mata dan menikmati tetesan hujan menerpa wajah cantiknya.
“hei, lo ngapain hujan-hujan masih disini?” sebuah suara mengagetkan Tasya. Gadis itu membalikkan badannya. Dibelakangnya telah berdiri sesosok makhluk Tuhan yang luar biasa cakep. Berdiri dengan kaos putihnya yang basah kuyup.
“Lo sendiri ngapain?”
“Nnnggg.... Gue.... gue suka hujan!!” cowok itu menjawab dengan ketus.
“Gue juga suka hujan” jawab Tasya.
Dion yang sama seperti Tasya, sama-sama menyukai hujan membuat mereka semakin dekat. Hampir setiap kali hujan, mereka selalu menikmatinya di halaman belakang kampus. Dan suatu hari ditengah hujan yang turun deras, Dion menyatakan cintanya pada Tasya. Waktu itu Tasya merasa menjadi makhluk paling beruntung di dunia ini. Karena menjadi pacarnya Dion- cowok paling keren di kampus adalah impian setiap orang. Mereka, Dion-Tasya adalah pasangan paling serasi. Tasya yang cantik dan Dion yang keren.
Sejak saat itu hari-hari Tasya berjalan begitu indah. Namun memasuki delapan bulan hubungan mereka, seseorang hadir dalam hidup Tasya. Agil. Sepupu Heni yang tajir abis itu mulai menyelinap masuk dalam hatinya Tasya. Sejauh ini nggak ada kecurigaan dari Dion. Tapi.... 16 hari yang lalu ketika Dion dan Tasya makan malam disebuah restoran favorite mereka....
“Beb, aku ke toilet dulu ya?” Dion menjawab dengan anggukan dan tetap tersenyum manis pada bidadarinya itu.
Handphone Tasya yang tertinggal di meja tempat mereka makan berdering. Dion menatap ponsel itu. Dion dengan iseng membaca pesan yang masuk ke handphonenya Tasya.
Cay, aku bentar lg nympe d kostan kmu.
Siap2 ya....
Aku mau ngjakin kmu kluar bentar.
Aku ada kejutan buat kmu. Okey??
Sender:
Agil_qU
Mata Dion terbelalak tak percaya menatap layar ponsel yang dipegangnya. Tangannya bergerak cepat memeriksa inbox Tasya. Beberapa sms singkat dari Agil memenuhi kotak masuk ceweknya. Rasa marah cowok itu membuat pipinya memerah. Dion memilih menu reply dan membalas sms Agil.
Okey
Aku tggu....
Delivered:
Agil_qU
Tasya melangkah mendekati meja dimana Dion duduk. Dion berusaha memasang ekspresi biasa aja di depan Tasya.
“Sya, pulang yuk. Aku lupa kalo aku harus jemput mama di rumah Tante Ratna”
“Oh, ayok....!!!”
***
Toyota Vios Dion berhenti di depan kostnya Tasya. Sebuah Honda CRV telah terparkir di halaman rumah. Tasya pucat. Dia tau siapa yang datang.
“Nnggg.... Beb, kayaknya dompet aku ketinggalan di tempat kita makan tadi. Balik ke restoran lagi yuk beb?” Tasya berusaha setengah mati agar Dion tidak ketemu Agil.
“Sya!! Cukup!!! Gue nggak mau dengar apa-apa lagi dari lo!! Sekarang lo turun dari mobil gue dan temuin cowok lo itu!!!” Dion benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Mulut Tasya ternganga mendengar ucapan Dion.
“mak.... maksud kamu apa sayang?” Tasya terbata-bata seolah nggak ngerti dengan yang Dion ucapkan.
“Lo nggak usah sok lugu lagi Sya!! Gue udah tau semuanya. Cuma satu yang gue nggak tau! Gue nggak tau sejak kapan lo memulai hubungan lo ama cowok baru lo itu?? Sekarang lo turun!!! Mulai detik ini gue akan pergi dari hidup lo!!”
“Dion, semua ini nggak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Plisss!!! Dengerin aku Ion....”
“Udah Sya. Cukup!! Lo nggak usah jelasin apa-apa. Gue nggak butuh. Sekarang juga gue mohon lo turun dari mobil gue!!”
“Ion!!! Plisss.... Kasih aku kesempatan Ion.... Aku mohon....” air mata Tasya mulai mengalir dari sudut matanya.
“Sya!! Gue sayang ama lo! Sayang banget. Tapi apa yang lo lakuin ke gue?? Apa??! Lo ngehianatin gue Sya! Apa sih yang salah dari gue selama ini?”
“Kamu nggak salah Ion. Aku yang salah. Aku yang bodoh. Aku udah nyia-nyiain kamu. Maafin aku ya Ion??”
“Sorry Sya. Untuk saat ini kayaknya gue belum bisa maafin lo. Sekarang lebih baik lo turun dan temuin cowok lo. Kalo suatu hari nanti dia ninggalin lo, lo bisa datang lagi ke gue. Di tempat dulu kita ketemu dalam hujan dan dimusim hujan yang akan datang. Mungkin gue akan ada disana buat lo”
“Ion....”
“Sekarang lo turun” intonasinya datar dan suara cowok itu sedikit serak.
* * *
Suara DVD yang keras membangunkan Tasya dari lamunannya. Ia teringat Dion. Sungguh ia sangat merindukan cowok itu. Sejak kejadian malam itu, Tasya sudah memutuskan hubungannya dengan Agil.
Tasya memandang keluar. Rintik-rintik hujan mulai turun. Sekarang memasuki bulan Desember. Itu artinya dia harus menunggu satu tahun lagi untuk menemui Dion-nya. Dia akan tetap menunggu. Menunggu Desember tahun depan. Entah itu nanti Dion masih ada untuknya atau tidak, Tasya tidak peduli. Bisa aja tahun depan Dion sudah melupakan ucapannya atau mungkin nanti Dion sudah tidak lagi sendiri. Tapi Tasya tetap tidak peduli.
_THE END_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar